• Selasa, 7 Februari 2023

Fenomena El Nino Picu Kemarau Panjang di Indonesia pada 2023

- Senin, 16 Januari 2023 | 12:00 WIB
Ilustrasi perubahan iklim dengan lapisan ozon. Vatikan Serahkan Aksesi Kerangka Kerjasama PBB Perubahan Iklim.
Ilustrasi perubahan iklim dengan lapisan ozon. Vatikan Serahkan Aksesi Kerangka Kerjasama PBB Perubahan Iklim.

halopedeka.com - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena El Nino akan terjadi di Indonesia pada 2023. Fenomena ini menyebabkan kemarau panjang atau mundurnya musim penghujan.

Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG Supari menuturkan prakiraan kemungkinan terjadi El Nino ini mengacu pada data cuaca selama tiga tahun terakhir. Di mana, Indonesia mengalami peningkatan curah hujan akibat La Nina. Dari data sebelumnya, kondisi ini hanya terjadi selama tiga tahun berturut-turut.

“Tahun depan diprediksi tidak basah karena El Nino. Kenapa pertama dari statistik selama 70 tahun terakhir belum pernah terjadi kejadian La Nina 4 tahun berturut turut. Maksimal 3 tahun, ini sudah tahun ketiga sehingga peluang kecil terjadi La Nina tahun depan,” jelasnya Desember lalu.

Baca: Perubahan iklim dan kenaikan jumlah penduduk ancam pasokan pangan

Pemodelan ini, lanjutnya, dapat memprediksi cuaca di Indonesia pada 2023. Peluang terbesar adalah berangsur ke kondisi netral. Imbasnya adalah curah hujan cenderung turun dibanding tiga tahun terakhir karena El Nino.

Dampak dari fenomena El Nino ini adalah meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Supari memprediksi potensi dan luasan karhutla bisa lebih besar dibanding 2020 dang 2021. Ini karena cuaca cenderung kering dan panas.

“Kita perlu waspadai potensi karhutla yang lebih besar dibanding 2020 – 2021. Kalau ditanya kekeringannya merata atau tidak, yang perlu kita waspadai yang daerah yang menjadi spot – spot karhutla diantarnya pulau Sumatera dan pulau Kalimantan,” katanya seperti dikutip Jawa Pos.

Supari mencontohkan data karhutla saat kondisi netral, La Nina dan El Nino. Kondisi netral terjadi pada medio 2016 sampai 2018. Kala itu karhutla di Sumatera mencapai 1.000 titik. Sementara di Kalimantan mencapai 2.300 titik.

Baca: Dampak polusi udara pada perubahan iklim

Saat kondisi La Nina atau tiga tahun terakhir terjadi penurunan. Tercatat muncul 600 titik karhutla di Sumatera. Untuk pantauan di Pulau Kalimantaan muncul 1.600 titik karhutla.

Halaman:

Editor: Pramesti Utami

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bank DKI Mendapat Indonesia Best BUMD Awards 2023

Rabu, 1 Februari 2023 | 16:03 WIB

Cuaca Hari Ini: Jakarta Masih Berpotensi Hujan

Selasa, 31 Januari 2023 | 07:00 WIB

Potensi Hujan Pada Saat Perayaan Imlek

Kamis, 19 Januari 2023 | 10:52 WIB

Kronologi Pembunuhan dan Mutilasi oleh M Ecky

Minggu, 8 Januari 2023 | 09:37 WIB

Pelayanan BPJS di RSUD Arifin Achmad

Kamis, 5 Januari 2023 | 14:58 WIB

Peluang Harga Emas Antam Turun Rp 4.000 per Gram

Selasa, 3 Januari 2023 | 10:37 WIB
X